Wednesday, June 6, 2012

Mie Kopyok Semarang

Mie Kopyok Pak Dhuwur

Salah satu makanan unggulan kota Semarang yang selama ini hilang dari radarku adalah Mie Kopyok. Apa sih sebenarnya mie kopyok ini?

Dari bentuknya, hidangan ini mirip dengan mie lontong, karena toh isinya juga nggak jauh berbeda. Secara sederhana, mie kopyok ini isinya mie kuning, lontong, tahu goreng, (banyak) kecambah, dan remasan krupuk gendar.

Yang membedakan mungkin karena kata 'kopyok' itu sendiri. Menurut penjual Mie Kopyok Pak Dhuwur di Semarang, kata 'kopyok' berasal dari cara memasak mienya.

Mie kuning yang masih mentah dimasukkan ke dalam air mendidih dan 'dikopyok-kopyok'. Bahasa Indonesia yang paling tepat mungkin adalah 'dikocok-kocok' dan 'diaduk-aduk'. Kecambah yang akan digunakan pun 'dikopyok-kopyok' di dalam air mendidih sebelum disajikan.

Mie kemudian disajikan di piring, diikuti dengan kecambah, lalu lontong yang telah diiris, tahu goreng, bawang goreng, dan gendar. Terakhir, penjual akan menambahkan kaldu bawang putih.

Rasanya antara manis dan gurih.

Kalau dari pengalamanku sendiri, meski nggak terlalu kuat, kedua rasa tersebut 'saling mengisi'.

Anyway, yang menarik dari mie kopyok ini sebenarnya bukan hanya isi dan rasanya. Menurut Ensiklopedi Makanan Tradisional (2003), disebutkan bahwa mie kopyok ini dijual dengan cara berkeliling di daerah-daerah tertentu. Pada tahun 70-80an ke bawah, para penjual menggunakan pikulan dan berkeliling. Kemudian pikulan berubah menjadi gerobak. Ensiklopedi tersebut bahkan menyatakan bila nggak menemukan satu penjual pun yang menetap.

Meski begitu, waktu kunjunganku terakhir ke Semarang, Mie Kopyok Pak Dhuwur ini sudah menetap di Jl. Tanjung. Ia sendiri sebelumnya berjualan sejak tahun 1965 dengan cara berkeliling. Entah sejak kapan menetap di tempatnya sekarang.

Mie kopyok ini sebenarnya lebih dikenal sebagai jajanan, atau hidangan ringan di antara jam makan utama. Para penjual biasa berkeliling sekitar pukul 10 pagi hingga jam 3 sore. Untuk menandai kehadirannya, mereka mengetuk-ngetukkan sendok ke piring.

Akan tetapi, banyak orang rupanya nggak menganggap mie kopyok ini hanya sekedar jajanan. Makin lama, banyak orang mengkonsumsinya sebagai makanan utama.

Seperti orang-orang yang mengantri pada jam makan siang di Mie Kopyok Pak Dhuwur. Termasuk aku.


Sumber:
- n.a , 2003, "Ensiklopedi Makanan Tradisional (di Pulau Jawa dan Madura)", Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata : Jakarta

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...